banner 728x250

PETI Diduga Bebani PDAM, Air Sungai Tabir Kian Keruh dan Surut

  • Bagikan
banner 468x60

MERANGIN – Kondisi Sungai Tabir yang melintas di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, semakin memprihatinkan. Debit air terlihat menyusut, sementara warna air berubah menjadi cokelat pekat bercampur lumpur.Kondisi

Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi ekosistem sungai, tetapi juga mulai berdampak pada proses pengolahan air bersih di Unit PDAM Tabir yang mengandalkan Sungai Tabir sebagai sumber air baku.

Pantauan di Sungai Tabir menunjukkan aliran air lebih dangkal dibanding biasanya. Di sejumlah titik tampak endapan sedimen memenuhi dasar sungai, sementara air mengalir dalam kondisi keruh.

Selain faktor musim kemarau yang turut memengaruhi debit air, sedimentasi yang diduga berasal dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Tabir dinilai berpotensi mempercepat pendangkalan dan menurunkan kualitas air.

Dampaknya mulai dirasakan oleh Unit PDAM Tabir. Tingginya tingkat kekeruhan air baku membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit dan membutuhkan bahan penjernih dalam jumlah lebih banyak agar air tetap memenuhi standar sebelum disalurkan kepada pelanggan.

Salah seorang pegawai Unit PDAM Tabir yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi air baku saat ini menjadi tantangan besar bagi petugas pengolahan.

“Air bakunya sekarang memang sangat keruh. Kami cukup kewalahan melakukan proses pemurnian karena kandungan lumpurnya meningkat. Namun, kami tetap berupaya agar air yang diterima pelanggan bersih dan layak digunakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan dari Direktur PDAM Tirta Merangin, Antoni Kurnia Putra, SE, terus diberikan kepada petugas di lapangan, baik dalam pemenuhan kebutuhan bahan penjernih maupun dukungan operasional.

“Alhamdulillah, Pak Direktur selalu memberikan dukungan kepada kami. Kebutuhan bahan penjernih dan operasional terus diupayakan agar pelayanan kepada pelanggan tidak terganggu, meski kondisi air baku sedang tidak normal,” katanya.

berita lainnya :  Santunan Zakat dan Ilusi Pengentasan Kemiskinan: Ketimpangan Ekonomi Merangin yang Terus Berulang

Sebelumnya, Unit PDAM Tabir mengungkapkan kebutuhan tawas sebagai bahan penjernih meningkat lebih dari 40 persen dibanding kondisi normal. Lonjakan penggunaan tawas tersebut terjadi seiring memburuknya kualitas air baku yang diambil dari Sungai Tabir.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merangin, Syafrani, seperti dikutip di Tribunjambi.com mengatakan pihaknya terus memantau kondisi daerah aliran sungai melalui Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH).

Menurutnya, DLH bersama organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi vertikal terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang mencemari sungai, terutama di wilayah hulu.

Syafrani mengingatkan bahwa air sungai yang tercemar bahan kimia, seperti merkuri, dapat merusak ekosistem perairan sekaligus membahayakan kesehatan manusia apabila masuk ke rantai konsumsi.

Ia berharap para pelaku PETI tidak melakukan proses pemisahan emas di bantaran sungai maupun membuang limbah hasil pengolahan ke aliran sungai.

Fenomena air Sungai Tabir yang semakin keruh, debit yang terus menyusut, serta meningkatnya beban pengolahan air bersih di PDAM menjadi gambaran bahwa dampak aktivitas PETI, apabila terus berlangsung, tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga menyentuh pelayanan dasar masyarakat.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas pertambangan ilegal di sepanjang DAS Tabir.

banner 325x300
Penulis: Asmadi Editor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *