banner 728x250

Nalom Siadari Tekankan Akurasi di Era Digital, Wartawan Diminta Tak Tergoda Kecepatan

  • Bagikan
banner 468x60


MERANGIN – Perkembangan teknologi digital membuat arus informasi bergerak semakin cepat. Di tengah tuntutan tersebut, wartawan diingatkan agar tidak mengorbankan akurasi demi menjadi yang pertama menayangkan berita.

Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Jambi, Nalom Siadari, saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan SDM Insan Pers yang digelar di Aula Depati Payung, Bappeda Kabupaten Merangin.

Dalam paparannya, Nalom mengulas dasar-dasar penulisan berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik. Menggunakan bahasa Indonesia yang baku .Ia juga menegaskan bahwa setiap informasi yang diterima wartawan wajib melalui proses verifikasi sebelum dipublikasikan, meskipun media digital menuntut kecepatan dalam menyajikan informasi.

“Kecepatan penting, tetapi kebenaran jauh lebih penting. Jangan sampai wartawan menjadi pihak yang ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” tegas Nalom.

Selain menekankan pentingnya verifikasi, ia mengingatkan peserta agar selalu menerapkan unsur 5W+1H, menjaga prinsip cover both sides, menghindari opini dalam penulisan berita, serta menggunakan bahasa jurnalistik yang singkat, jelas, dan mudah dipahami masyarakat.

Menurut Nalom, tantangan wartawan saat ini tidak hanya berasal dari ketatnya persaingan antarmedia, tetapi juga derasnya informasi di media sosial yang belum tentu benar. Karena itu, insan pers harus tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, menjaga independensi, dan mengutamakan kepentingan publik.

Dalam pantauan diacara kegiatan tersebut terlihat jelas , Nalom memperkenalkan konsep jurnalistik konstruktif, yang dinilainya semakin relevan di era digital. Berbeda dengan jurnalistik tradisional yang lebih berfokus pada penyampaian fakta dan peristiwa, jurnalistik konstruktif tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi juga menyajikan konteks, solusi, serta dampak yang dapat memberikan pemahaman lebih utuh kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, wartawan tetap harus kritis dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, namun pemberitaan hendaknya mampu memberikan nilai tambah melalui informasi yang mencerahkan, bukan sekadar mengejar sensasi atau konflik.

berita lainnya :  Penyidik Polda Jambi Bidik Tersangka Baru Korupsi Pengadaan Alat Praktik SMK yang Rugikan Negara Puluhan Miliar

“Karya jurnalistik yang baik bukan hanya membuat masyarakat tahu apa yang terjadi, tetapi juga membantu mereka memahami mengapa peristiwa itu terjadi dan bagaimana solusi atau jalan keluarnya,” ujarnya.

Melalui Bimtek tersebut, para peserta diharapkan mampu meningkatkan kompetensi jurnalistik, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar profesi kewartawanan.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *