MERANGIN — Membangun pengakuan dunia membutuhkan puluhan tahun. Menghilangkannya bisa terjadi hanya dalam hitungan bulan.
Itulah ironi yang kini membayangi Geopark Merangin-Jambi. Kawasan yang pada Mei 2023 resmi menyandang status UNESCO Global Geopark itu perlahan kehilangan wajahnya. Sungai-sungai yang menjadi bagian penting bentang alam geopark berubah keruh. Aliran air dipenuhi sedimen. Di sejumlah lokasi, alat berat dan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terus bekerja, meninggalkan luka pada kawasan yang seharusnya dijaga.
Status UNESCO bukan sekadar penghargaan. Pengakuan itu lahir dari perjalanan panjang para peneliti, akademisi, pemerintah, dan masyarakat yang selama bertahun-tahun memperjuangkan agar kekayaan geologi Merangin diakui dunia. Kawasan ini menyimpan fosil flora berusia sekitar 300 juta tahun, salah satu peninggalan penting dari era Permian yang menjadi laboratorium alam bagi ilmu pengetahuan.

Namun, setelah status dunia berhasil diraih, pertanyaan justru bermunculan. Mengapa kawasan yang seharusnya memperoleh perlindungan ekstra justru menghadapi tekanan semakin besar dari aktivitas PETI?
Penelusuran di lapangan menunjukkan aktivitas pertambangan ilegal bukan lagi persoalan baru. Aktivitas PETI sudah berlangsung lama di sejumlah kawasan aliran sungai yang memiliki keterkaitan dengan bentang alam Geopark Merangin. Kerusakan tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses yang berlangsung terus-menerus.
Yang menjadi sorotan bukan hanya keberadaan PETI, tetapi lemahnya pengawasan. Hingga kerusakan mulai menjadi perhatian publik, langkah penyelamatan baru ramai dibicarakan. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah sistem pengawasan selama ini benar-benar berjalan, atau justru gagal mendeteksi ancaman terhadap salah satu aset geologi paling berharga di Indonesia?
Di masa pemerintahan Bupati Merangin M. Syukur, persoalan PETI berulang kali menjadi perhatian masyarakat. Namun, di sisi lain, aktivitas pertambangan ilegal di sejumlah wilayah masih terus ditemukan. Kondisi tersebut memunculkan kritik bahwa upaya penertiban belum mampu menghentikan laju kerusakan lingkungan.
Ancaman terbesar bukan hanya hilangnya vegetasi atau rusaknya sungai. Yang dipertaruhkan adalah kredibilitas Geopark Merangin sebagai kawasan konservasi berkelas dunia. UNESCO secara berkala melakukan evaluasi terhadap pengelolaan geopark. Apabila komitmen perlindungan kawasan dinilai melemah, status tersebut dapat menjadi bahan evaluasi.
Kini publik menunggu lebih dari sekadar rapat koordinasi atau pernyataan resmi. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata: menghentikan PETI, memulihkan kawasan yang rusak, dan memastikan warisan geologi berusia ratusan juta tahun tidak lenyap akibat aktivitas tambang ilegal.
Sebab, mempertahankan warisan dunia jauh lebih sulit daripada meraihnya. Dan sejarah akan mencatat, apakah Geopark Merangin diselamatkan ketika masih ada waktu, atau justru dibiarkan terluka hingga semuanya terlambat.


















