Merangin — Kalimat itu terdengar sederhana: “pegawai kebersihan bukan robot.” Disampaikan Bupati Merangin kepada media online Transatu.id, pernyataan tersebut muncul di tengah keluhan warga atas persoalan sampah yang tak kunjung tertangani secara konsisten.
Di permukaan, pernyataan itu terasa manusiawi. Petugas kebersihan bekerja dengan keterbatasan tenaga, waktu, dan fasilitas. Mereka bukan mesin yang bisa bergerak tanpa henti.
Namun persoalan di Merangin tampaknya tidak berhenti pada batas kemampuan manusia. Yang mengemuka justru sesuatu yang lebih mendasar: sistem yang tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Beberapa hari lalu, di Pasar Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, tumpukan sampah terlihat mengendap di pinggir jalan. Plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga bercampur di ruang terbuka. Bau menyengat mengganggu aktivitas warga yang melintas dan berjualan di sekitarnya.
Kini sampah itu telah dibersihkan. Namun bagi warga, itu bukan akhir. Setiap Minggu, ketika Pasar Rantau Panjang kembali dipadati pengunjung sebagai pasar mingguan, kekhawatiran yang sama ikut datang: sampah akan kembali menumpuk.
Fakta bahwa penumpukan sempat terjadi dan berlangsung berhari-hari menunjukkan satu hal: penanganan masih bergerak setelah masalah membesar.
Pola ini mencerminkan kerja yang reaktif—bukan sistem yang berjalan secara konsisten.Dalam pelayanan publik, pola seperti ini bukan sekadar keterlambatan. Ia menunjukkan lemahnya kontrol, perencanaan, dan kepastian layanan.
Persoalan sampah di Merangin kerap disederhanakan sebagai masalah perilaku masyarakat. Rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya menjadi penjelasan yang paling mudah.

















