banner 728x250

Sampah Menumpuk, Layanan Mandek: Dua Hari Tanpa Angkut di Bangko Uji Kinerja DLH

  • Bagikan
Bau Menyengat di Siang Hari, Sampah Tak Kunjung Diangkut
banner 468x60

Merangin — Bau menyengat itu tidak datang sesaat. Ia menetap, mengendap di udara, dan bertahan lebih dari dua hari. Pantauan di salah satu ruas jalan di Bangko menunjukkan, sejak Rabu (8 April 2026) hingga Kamis siang (9 April 2026), tumpukan sampah tetap berada di lokasi yang sama—tanpa pengangkutan.

Pada Rabu siang, sekitar pukul 12.43 WIB, sampah rumah tangga sudah terlihat menggunung di tepi jalan. Plastik, sisa makanan, dan limbah campuran menumpuk di bawah pohon, sebagian meluber hingga mendekati badan jalan.

Bau busuk mulai tercium kuat, terutama saat angin bergerak ke arah permukiman.

Sehari berselang, Kamis siang, kondisi tidak berubah. Volume sampah justru bertambah. Sejumlah bagian mulai menghitam dan membusuk—indikasi tidak adanya penanganan sejak hari sebelumnya.

Lalat mengerubungi tumpukan, sementara bau yang dihasilkan kian pekat.

“Dari kemarin masih begini, malah nambah,” kata seorang warga yang melintas.

Yanto, seorang pedagang yang berjualan tepat di samping lokasi tumpukan sampah, mengaku kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitasnya.

Bau menyengat yang terus muncul membuat warungnya kehilangan pembeli.

“Biasanya ramai, siang atau malam orang ngopi di sini. Sekarang sepi karena bau busuk dari sampah,” ujar Yanto.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bang Zul, warga yang kerap melintas di lokasi tersebut. Ia mengaku merasa risih dengan kondisi sampah yang dibiarkan membusuk tanpa penanganan.

“Baunya tidak tahan, apalagi kalau siang. Sudah dua hari begini,” kata Bang Zul.

Pengangkutan sampah di Bangko berada di bawah tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merangin.

Namun selama lebih dari 24 jam, tidak terlihat aktivitas armada pengangkut di lokasi. Tidak adanya pengangkutan dalam rentang waktu tersebut menunjukkan gangguan pada layanan dasar yang seharusnya berjalan harian.

berita lainnya :  Diduga Uji Coba Turbin PLTA, Permukaan Danau Kerinci Disebut Menyusut: Warga Khawatir Dampak Jangka Panjang

Ketiadaan respons ini menegaskan bahwa jadwal ritasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dalam sistem normal, keterlambatan satu hari semestinya dapat segera ditutup.

Yang terjadi di lapangan justru sebaliknya—keterlambatan berlanjut tanpa intervensi.Sejumlah sumber yang mengetahui pola operasional kebersihan daerah menyebut persoalan kerap muncul pada disiplin ritasi dan kesiapan armada.

Ketika satu jadwal terlewat, tidak ada mekanisme cadangan yang memastikan titik tersebut segera ditangani.

“Begitu telat, bisa menumpuk dua sampai tiga hari,” ujar sumber tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, pantauan di sejumlah titik lain di Bangko menunjukkan pola serupa: sampah menumpuk lebih dari satu hari tanpa pengangkutan yang pasti.

Pola berulang ini mengindikasikan persoalan yang tidak lagi insidental, melainkan mengarah pada gangguan sistemik dalam pengelolaan sampah.

Di sisi lain, tekanan terhadap warga tetap berjalan melalui aturan kebersihan dan ancaman sanksi.

Namun di lapangan, layanan dasar justru tidak hadir secara konsisten. Ketimpangan antara regulasi dan pelayanan menjadi semakin nyata.

Upaya konfirmasi kepada kadis DLH Merangin hingga Kamis siang belum memperoleh respons. Pesan yang dikirim belum dijawab.

Hingga Kamis siang, tumpukan sampah masih bertahan di lokasi, dengan bau yang semakin menyengat.

Warga hanya bisa menunggu—tanpa kepastian kapan akan diangkut.Di Bangko, dua hari bukan sekadar hitungan waktu. Ia menjadi ukuran sederhana apakah layanan publik benar-benar bekerja—atau hanya berhenti sebagai catatan di atas kertas.

banner 325x300
Penulis: Asmadi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *