banner 728x250

Sejarah Asal-usul  Hari Pers Nasional, 2026 PWI Tetapkan Tema: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat

  • Bagikan
banner 468x60

PWI Pusat gelar rapat konsolidasi matangkan persiapan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten. Fokus pada program kerja, protokol kepresidenan, dan teknis acara. (Sumber: PWI | Foto: PWI)
mediafaktajambi.org Hari Pers Nasional (HPN) 2026 hari ini  kembali diperingati 9 Februari sebagai momen penting bagi insan pers Indonesia.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menetapkan Untuk tahun ini peringatan HPN dipusatkan di Provinsi Banten, dengan tema besar “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”

HPN telah lama diperingati oleh bangsa Indonesia sejak era Orde Baru, dan dikaitkan dengan jasa Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebagai bentuk identitas visual dan kultural, panitia HPN 2026 juga memperkenalkan maskot bernama “Si Juhan”, seekor Badak Jawa yang merepresentasikan keteguhan serta kearifan lokal masyarakat Banten.

Berdasarkan tanggal lahirnya PWI tersebut, tanggal 9 Februari diresmikan sebagai Hari Pers Nasional oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985.

Sejarah lahirnya PWI

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah organisasi profesi wartawan pertama di Indonesia yang berdiri pada tanggal 9 Februari 1946 di Surakarta.

Kelahiran PWI dilatarbelakangi oleh semangat perjuangan wartawan Indonesia untuk ikut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

PWI berdiri ketika bangsa Indonesia berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan Belanda.

Langkah ini diambil untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dari pers nasional, sebagai institusi yang merdeka dan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila.

PWI menjadi tonggak penting dalam lahirnya Hari Pers Nasional.

Pasalnya, kehadiran PWI membantu memperkuat posisi wartawan Indonesia dan menjadikannya pendukung serta kekuatan pers nasional.

Seiring berjalannya waktu, PWI terus bertransformasi, tidak hanya menjadi wadah berhimpun, tetapi juga rumah belajar untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi wartawan.
Tonggak formal peringatan Hari Pers Nasional (HPN) muncul pada masa pemerintahan Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Keppres tersebut menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional, bertepatan dengan hari lahir PWI.

berita lainnya :  Pemkab Kerinci Launching Perdana Program MBG Dapur SPPG di Lempur Tengah

Penetapan ini juga mencerminkan pengakuan negara atas peran vital pers dalam pembangunan dan pengamalan Pancasila.

Sebelum Keppres itu, ide memperingati Hari Pers telah muncul dalam Kongres PWI ke-28 di Padang tahun 1978 dan disepakati oleh Dewan Pers dalam sidangnya pada 19 Februari 1981 di Bandung. Sejak itu, HPN diselenggarakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi di Indonesia, melibatkan sinergi antara insan pers, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Di dalam Keppres itu juga ditegaskan pemilihan tanggal 9 Februari sebagai HPN didasarkan atas tanggal pembentukan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia tahun 1946, yang pada orde baru merupakan satu-satunya organisasi profesi wartawan yang diakui pemerintah

Pasca reformasi 1998, kebebasan pers mengalami perkembangan signifikan. Undang-undang yang menjamin kebebasan berekspresi dan pelindung terhadap sensor diberlakukan. Pers Indonesia pun memasuki era baru yang lebih bebas dan independen, meski tetap dihadapkan pada tantangan disrupsi digital dan tekanan ekonomi.

Tema HPN Tahun 2026
Hari Pers Nasional tahun 2026 mengangkat tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” yang ditetapkan secara resmi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tema ini memuat pesan strategis tentang peran vital pers dalam memperkuat demokrasi dan kedaulatan bangsa di tengah tantangan zaman, khususnya disrupsi digital dan perubahan geopolitik globalTema.

1. Pers Sehat
Dimaknai sebagai pers yang profesional, independen, berintegritas, serta menjunjung tinggi etika jurnalistik dan nilai moral. Pers yang sehat diharapkan mampu menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab kepada publik, menjadi fondasi dari demokrasi yang kokoh.

2. Ekonomi Berdaulat
Menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi media. Dalam konteks ini, media harus bebas dari ketergantungan pada kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga tetap dapat menyuarakan kebenaran dan kepentingan publik tanpa tekanan. Kemandirian ini dianggap kunci untuk bertahan di tengah persaingan dengan platform digital global.

berita lainnya :  Staff Ahli Sebut Peran Penting BKMT dalam Penanganan Stunting, Isu Sosial, Kesehatan dan Keluarga

3. Bangsa Kuat
Merupakan cerminan kontribusi pers dalam memperkuat kesatuan nasional, membangun daya saing bangsa, dan mendorong kemajuan melalui pemberitaan yang konstruktif, edukatif, serta inspiratif.

HPN 2026 diharapkan menjadi ajang konsolidasi insan pers Indonesia untuk memperkuat profesionalisme, menjaga independensi, dan terus berkontribusi terhadap pembangunan nasional yang berkelanjutan.

banner 325x300
Penulis: Gazali.Editor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *