KERINCI — Uji coba operasional turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memanfaatkan aliran dari Danau Kerinci mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar. Sejumlah warga menduga permukaan air danau terlihat mengalami penurunan meski proyek tersebut baru pada tahap percobaan.
Kondisi ini memicu pertanyaan: bagaimana dampaknya jika turbin beroperasi penuh secara permanen?
Pantauan warga di beberapa titik tepian danau menunjukkan garis air yang mundur dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Area yang biasanya tergenang kini mulai terlihat berupa hamparan lumpur dan bebatuan. Nelayan setempat mengaku harus mendorong perahu lebih jauh sebelum bisa mencapai kedalaman yang cukup untuk berlayar.
“Ini baru uji coba sudah kelihatan surut. Kalau nanti turbin aktif terus, kami takut air makin turun,” ujar Hasan, nelayan di wilayah pesisir danau.
Ia khawatir penurunan debit air akan berdampak pada hasil tangkapan ikan dan keberlangsungan mata pencaharian warga yang bergantung pada danau.
Kekhawatiran Lingkungan dan Ekonomi Lokal
Danau Kerinci selama ini menjadi sumber kehidupan bagi ribuan warga—mulai dari perikanan, pertanian, hingga sektor pariwisata. Penurunan permukaan air berpotensi memengaruhi ekosistem perairan, termasuk habitat ikan dan kualitas air. Di sisi lain, pelaku usaha wisata dan pemilik homestay di sekitar danau mengaku cemas jika pemandangan dan aktivitas wisata air terganggu.
Beberapa petani juga menyoroti kemungkinan berkurangnya pasokan air irigasi bila penurunan debit terjadi secara signifikan. “Kami belum tahu dampaknya seberapa besar, tapi kalau air berkurang, sawah ikut terdampak,” kata seorang petani di kecamatan sekitar danau.
Tahap Uji Coba dan Pertanyaan Soal Pengelolaan Debit
Berdasarkan informasi yang diperoleh Pihak pengelola proyek PLTA melakukan tahap uji coba mengukur stabilitas turbin dan sistem pengendalian air. Namun, di lapangan muncul persepsi bahwa pengaturan buka-tutup pintu air dan volume aliran belum sepenuhnya dipahami masyarakat.


















