banner 728x250

Jejak Alat Berat di Jantung TNKS: Siapa Menopang Tambang Emas Ilegal di Perbatasan Kerinci–Merangin?

  • Bagikan
banner 468x60

mediafaktajambi.org.—Maraknya  Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di perbatasan Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin kian sulit disangkal.

Di balik rimbunnya kawasan konservasi yang selama ini dikenal sebagai habitat satwa langka, jejak-jejak aktivitas tambang perlahan muncul ke permukaan.

Informasi yang dihimpun FAKTA  dari sejumlah sumber menyebutkan sedikitnya 20 unit alat berat diduga telah masuk dan beroperasi di dalam kawasan hutan lindung tersebut.

Angka ini belum termasuk mesin penyedot dan peralatan tambang skala kecil yang tersebar di beberapa titik.

Keberadaan alat berat di kawasan taman nasional memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana alat-alat itu bisa menembus kawasan konservasi yang secara hukum memiliki pengawasan ketat.

Penelusuran di jalur perbatasan menunjukkan adanya aktivitas lalu lintas kendaraan pengangkut bahan bakar dan suku cadang menuju mulut-mulut hutan.

Beberapa warga mengaku melihat konvoi kendaraan masuk dengan muatan tertutup kata seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Rantai logistik menjadi titik paling krusial dalam praktik PETI berskala besar.

Operasional alat berat membutuhkan pasokan solar dalam jumlah signifikan, perawatan mesin berkala, serta jalur distribusi yang relatif aman.

Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa aktivitas tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang jaringan yang terorganisir, mulai dari pemasok bahan bakar hingga pengamanan jalur.

Di sisi lain, kerusakan lingkungan mulai terasa di kawasan hilir. Beberapa aliran sungai yang bermuara dari kawasan TNKS dilaporkan mengalami kekeruhan meningkat, terutama setelah hujan deras.

Banyak pengamat lingkungan menilai gejala ini berpotensi terkait pembukaan lahan dan aktivitas pengerukan tanah di hulu.

“Jika benar ada alat berat di dalam kawasan konservasi, dampaknya bukan hanya deforestasi, tetapi juga ancaman serius terhadap kualitas air dan habitat satwa,” ujarnya.

berita lainnya :  H M Syukur Bangga, M Fhaiz Runner Up 01 Duta Siswa Indonesia

Balai TNKS dan aparat penegak hukum hingga kini belum memberikan keterangan resmi mengenai jumlah pasti alat berat yang masuk maupun titik koordinat aktivitas PETI tersebut.

Minimnya informasi resmi justru mempertebal spekulasi publik tentang sejauh mana pengawasan kawasan konservasi dijalankan.

Masuknya puluhan alat berat ke kawasan taman nasional dinilai hampir mustahil terjadi tanpa celah pengawasan atau pembiaran di lapangan.

Selain akses jalan, keberadaan jalur suplai bahan bakar dan logistik menandakan aktivitas berlangsung dalam kurun waktu yang tidak singkat.

Pertanyaan mengenai siapa yang diuntungkan dan siapa yang menutup mata menjadi isu yang terus bergulir di tengah masyarakat perbatasan.

Jika tidak segera diungkap secara transparan, praktik PETI di jantung TNKS berpotensi meninggalkan kerusakan ekologis yang sulit dipulihkan.

Kawasan yang selama ini menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Sumatera itu terancam berubah menjadi lanskap tambang, sementara jejak alat berat di dalamnya menjadi simbol lemahnya pengawasan terhadap wilayah konservasi.

banner 325x300
Penulis: AsmadiEditor: Redaksi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *